Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Perkembangan Moral ~ MoooBlogs

Kamis, 16 Mei 2013

Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Perkembangan Moral


BAB I 
PENDAHULUAN
PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERKEMBANGAN MORAL

1.1 Latar Belakang Masalah
Kemajuan dan perkembangan pendidikan sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga perubahan moral pada anak sangat dipengaruhi oleh pendidikan formal informal dan non-formal. Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia sangatlah penting.

Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan sifat masing-masing dari anggotanya, terutama pada anak-anak yang masih berada dalam bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya. Sehingga orang tua merupakan dasar pertama dalam pembentukan pribadi anak. Mendidik anak dengan baik dan benar berarti menumbuhkembangkan moral pada anak secara wajar. Potensi jasmaniah anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sedangkan potensi moral anak diupayakan pengembangannya secara wajar melalui usaha pembinaan intelektual, perasaan dan budi pekerti. Upaya- upaya tersebut dapat terwujud apabila di dukung dengan pola pengasuhan orang tua yang tepat.

Penerapan pendidikan moral pada anak sebaiknya dilakukan sedini mungkin agar kualitas anak yang berakhlak mulia sebagai bekal khusus bagi dirinya, umumnya bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan agama. Betapa banyak faktor penyebab terjadinya kenakalan pada anak-anak yang dapat menyeret mereka pada dekadensi moral dan pendidikan yang buruk dalam masyarakat, dan kenyataan kehidupan yang pahit penuh dengan “kegilaan”, betapa banyak sumber kejahatan dan kerusakan yang menyeret mereka dari berbagai sudut dan tempat berpijak. Menurut Stewart dan Koch (1983: 178) mengatakan bahwa pola asuh pada orang tua ada tiga macam yaitu pola asuh Otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh permisif. Pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak- anaknya tidak hanya berpengaruh 
pada perilaku si anak melainkan akan berpengaruh pula pada moral anak untuk hidup kedepannya Oleh karena itu, jika para pendidik tidak dapat memikul tanggung jawab dan amanat yang diberikan pada mereka, dan pula tidak mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kelainan pada anak-anak serta upaya penanggulangannya maka akan terlihat suatu generasi yang bergelimang dosa dan penderitaan dalam masyarakat. Dari kemungkinan-kemungkinan di atas penulis tertarik untuk mendeskripsikan bimbingan orang tua dalam membina moral pada usia pra sekolah di lingkungan keluarga.

1.2 Pengertian Judul
Sudah bukan menjadi rahasia lagi , sekarang ini telah terjadi dekadensi moral di kalangan anak-anak. Salah satu bukti nyata bahwa moralitas anak-anak kita mengalami kemerosotan yang luar biasa adalah dengan semakin banyaknya kasus-kasus perbuatan amoral yang dilakukan oleh anak-anak kita seperti tindakan kekerasan, perampokan, pembunuhan, pelecehan seksual, hingga minum-minuman keras dan penyalahgunaan narkoba atau perbuatan yang melanggar hukum lainnya. Perkembangan moral anak dan remaja yang memburuk, telah menjadi keresahan tersendiri bagi para orangtua dan guru di sekolah. Keresahan ini dapat dipahami karena anak adalah generasi penerus yang akan menentukan cerah buramnya masa depan bangsa di kemudian hari. Artinya, bila moralitas anak-anak kita mengalami degradasi, tanpa ada upaya secepatnya masalah keruntuhan bangsa tinggal menunggu waktu. Masalah moral merupakan salah satu aspek penting yang perlu di tumbuh kembangkan dalam diri anak. Berhasil tidaknya penanaman nilai modal pada masa kanak-kanak akan sangat menentukan baik buruknya perilaku moral seseorang pada masa selanjutnya. Menurut Al-Halwani (1995: 88) anak memiliki kebiasaan meniru yang kuat terhadap seluruh gerak dan perbuatan dari figure yang menjadi idolanya. Oleh karena itu seorang anak secara naluriah akan menirukan perbuatan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, saudara dekat serta kerabat yang terdekat. Realitas yang demikian itu perlu mendapat perhatian tersendiri, karena perkambangan akhlak, watak, kepribadian dan moral anak akan sangat ditentukan oleh kondisi dan situasi yang terdapat dalam keluarganya. Hal ini berkaitan dengan kedudukan keluarganya sebagai lingkungan yang pertama dan utama bagi anak. Dengan asumsi bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak, maka pola asuh orangtua yang diterapkan anak akan sangat berpengaruh pada perkembangan jiwa anak, termasuk masalah moralitasnya. Bila pola asuh yang diterapkan pada anak baik maka akan membentuk kepribadian anak yang baik pula. Sedangkan bila orang tua salah dalam menerapkan pola asuh akan berdampak buruk pada perkembangan moral anak, karena anak akan berlaku menyimpang yang mengarah pada perilaku kenakalan anak (Widayanti dan Iryani, 2005: 30)
Pola asuh orang tua adalah sebuah faktor penghambat moral anak disaat pola asuh orang tua terlalu otoriter ataupun terlalu memaksa, karena karakteristik seorang anak sangat sensitif ditambah setiap anak tidak dapat secara langsung dioptimalkan secara cepat. Dengan kata lain memaksakan kemampuan danagan waktu yang singkat.
Apabila orangtua memaksakan peningkatan potensi perkembangan moral anak kebanyakan malah menyebabkan gangguan mental terhadap anak tersebut biasanya anak akan cenderung merasa canggung, merasa serba salah tidak percaya pada diri sendiri dan merasa tertekan.
Pola asuh bukan hanya bisa menggangu moral anak akan tetapi malah akan menurunkan kemampuan psikomotorok anak, pada saat anak dalam kondisi depresi dan ditambah dengan tuntutan dari orangtua yang tidak dapat dipenuhi oleh anak, anak yang sedang dalam keadaan depresi sangat mudah untuk diketahui hal ini dikarenakan keadaan anak bisa berubah secara drastis, tanda tandanya antara lain, yang biasanya anak tersebut suka bercanda berubah menjadi pemurung, yang biasanya ceria berubah menjadi gampang marah, bahkan dapat menghancurkan moral anak itu sendiri.
Dalam penulisan, terdapat tujuan- tujuan tertentu yang diharapkan oleh penulis. Adapun tujuan dari penulisan ini tidak lain adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara pola asuh orangtua atau pengaruh lingkungan keluarga terhadap moral anak.


BAB II
PERMASALAHAN

Orang tua adalah komponen keluarga yang di dalamnya terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga kecil. Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia sangatlah penting.

Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan sifat masing-masing dari anggotanya, terutama pada anak-anak yang masih berada dalam bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya. Sehingga orang tua merupakan dasar pertama dalam pembentukan pribadi anak.

Mendidik anak dengan baik dan benar berarti menumbuhkembangkan moral pada anak secara wajar. Potensi jasmaniah anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan pengembangannya secara wajar melalui usaha pembinaan intelektual, perasaan dan budi pekerti. Upaya- upaya tersebut dapat terwujud apabila di dukung dengan pola pengasuhan orang tua yang tepat. Menurut Stewart dan Koch (1983: 178) mengatakan bahwa pola asuh pada orang tua ada tiga macam yaitu pola asuh Otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh permisif. Pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak- anaknya tidak hanya berpengaruh pada perilaku si anak melainkan akan berpengaruh pula pada moral anak untuk hidup kedepannya

Masa remaja awal merupakan masa transisi,dimana usianya berkisar 13 sampai 16 tahunatau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan terhadap dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara social (Hurlock, 1973). Pada masa transisi tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan perilaku menyimpang.pada kondisi tertentu, perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang mengganggu (Ekowarni, 1993).

Melihat kondisi tersebut apabila didukung dengan lingkungan yang kurang kondusif dan sifat keperibadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan perbuatan negative yang melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat.

Hampir setiap hari kasus kenakalan remaja selalu kita temukan di media massa, dimana sering terjadi di kota-kota besar seperti, Jakarta, Surabaya, dan Medan, salah satu wujud dari kenakalan remaja ialah trawuran yang dilakukan oleh para pelajar atau remaja. Data di Jakarta tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga kali perkelahian di tiga tempat sekaligus (Tambunan, dalam e-psikologi, 2001)

Menurut Hirsci (dalam Mussen dkk, 1994) orangtua dari remaja nakal cenderung memiliki aspirasi yang minim mengenai anak-anaknya, menghindari keterlibatan keluarga dan kurangnya bimbingan orang tua terhadap anak. Sebaliknya , suasana keluarga yang menimbulkan rasa aman dan menyenangkan akan menumbuhkan keperibadian yang wajar dan begitu pula sebaliknya.

Banyak penelitian yang dilakukan para ahli menemukan bahwa remaja yang berasal dari keluarga yang penuh perhatian, hangat, dan harmonis mempunyai kemampuan dalam menyesuaikan diri dan sosialisasi yang baik dengan lingkungan disekitarnya (Hurlock, 1973). Selanjutnya (Tallent, 1978) menambahkan anak yang mempunyai penyesuaian diri yang baik disekolah, biasanya memiliki latar belakang keluarga yang harmonis, menghargai pendapat anak dan hangat. Hal ini disebabkan karena anak yang berasal dari keluarga yang  harmonis akan mempersepsi rumah mereka sebagai suatu tenpat yang membahagiakan karena semakin sedikit masalah antara orang tua, maka sedikit masalah yang dihadapi anak dan begitu juga sebaliknya
Dari latar belakang masalah diatas maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah berbagai macam pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan moral anak. 


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Perkembangan Moral Anak
Kita sebagai mahluk sosial tentunya memerlukan sosialisasi dengan masyarakat. Dengan sosialisasi tersebut kita lebih banyak mengetahui pribadi atau sifat masing- masing orang yang berbeda antara satu dengan yang lain. Tentunya dalam berkomunikasi kita memerlukan tata cara yang seharusnya kita gunakan dalam komunikasi tersebut, dengan siapa kita berbicara, apa yang kita bicarakan. Aturan yang mengacu pada aturan umum mengenai baik buruknya kita dalam berkomunikasi dengan orang lain inilah yang disebut dengan moral. Menurut Piaget, seorang ahli psikologi yang melakukan penelitian pada anak- anak, ia membagi menjadi dua tahap, yaitu heteronomus morality, dan autonomus morality. Pada tahap heteronomus morality anak banyak beranggapan bahwa anak dalam melakukan suatu hal banyak menimbang akibat dari sesuatu yang telah mereka lakukan, bukan maksud dari apa yang telah ia lakukan. Anak- anak yang berada dalam masa heteronomus menganggap bahwa aturan adalah buatan dari pemegang kekuasaan yang memiliki power lebih sehingga peraturan tersebut tidak dapat dirubah. Anak pada masa ini juga meyakini akan adanya keadilan yang tetap ada dan setiap kejahatan yang dilakukan pasti akan mendapatkan hukuman.
Menurut Piaget dalam masa anak berkembang mereka banyak mengalami kemajuan pemahaman tentang masalah- masalah sosial yang ada di sekitarnya. Hal ini juga karena pengaruh dari teman sebaya mereka. Dengan teman sebaya mungkin mereka banyak menemukan kesamaan pandangan. Hal tersebut belum tentu mereka dapatkan dengan mereka hanya berhubungan dengan orang tua atau keluarga. 
Selain Piaget ada seorang ilmuwan yang berpendapat tentang perkembangan moral yaitu Kohlberg yang menggunakan pendekatan secara kognitif sama dengan apa yang dilakukan oleh Piaget, menurut Kohlberg ia membagi enam tahap perkembangan penalaran moral yang dibagi menjadi 3 level. Yang pertama adalah Penalaran moral prakonvensional pada level dasar ini, anak belum menunjukkan internalisasi nilai- nilai moral, pada masaini anak melakukan sesuatu dikatakan baik jika menghasilkan sesuatu yang secara fisik menyenangkan atau menguntungkan. Level ini terdiri dari: tahap pertama yaitu Orientasi Kepatuhan dan Hukuman yang mengacu pada figur- figur yang berkuasa anak akan lebih patuh dan takut akan hukuman yang diberikan.
Tahap yang kedua yaitu Orientasi Individualisme dan Orientasi Instrumental pada tahap ini anak masih cenderung pada peristiwa- peristiwa yang datang dari luar namun yang berkaitan dengan fisik anak tersebut. Suatu tindakan dinilai benar bila dikaitkan dengan kejadian eksternal yang memuaskan dirinya sendiri. Level yang kedua adalah Penalaran moral Konvensioanal pada tahap ini perkembangan moral sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang lain.Apa yang diyakini oleh orang lain adalah sebagai suatu kebaikan dan kebenaran. Dan individu melakukan sesuatu harus sesuai aturan karena jika melanggar akan mendapatkan hukuman yang sesuai. Dan kegiatan yang dianggap bermoral adalah kegiatan yang sesuai dengan aturan yang telah ada dalam masyarakat. Level yang ketiga adalah Penalaran moral pasca konvensional pada tahap ini orang akan beranggapan bahwa dalm aturan sosial tentunya ada unsur yang dapat diubah dan bersifat subjektif tergantung pada kondisi. Pada tahap ini juga ada suatu hubungan timbal balik dan kontrak antara individu dengan masyarakat. 
Kita sebagai calon pendidik tentunya harus menciptakan suasana yang kondusif yang mendukung perkembangan moral anak. Diantaranya dengan kegiatan pembelajaran emosi yang harus langsung dilakukan dengan praktek tidak bisa disampaikan secara teori di depan kelas.Perlu ada program yang bisa meningkatkan tingkat pengayaan anak dengan upaya pengembangan kesadarn sosioemosi anak. Dalam proses belajar mengajar anak harus banyak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan teman sebaya diantaranya aktivitas belajar kelompok yang bisa mempererat komunikasi diantara mereka. Selain hal itu, kondisi lingkungan juga harus diperhatikan dan perlakuan terhadap anak. Sekolah juga harus mengadakan kegiatan yang mampu mengembangkan kelebihan yang dimiliki oleh anak, agar mereka terus terpacu untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi dari dirinya.


3.2 Tahap Perkembangan Moral Anak
1. Perkembangan kuantitas menuju kualitas
Ketika anak mulai mengenal larangan orangtua, anak cenderung menilai dosa atau kesalahan berdasarkan besar-kecilnya akibat perbuatan yang ditimbulkannya. Misalnya, anak menganggap bahwa menjatuhkan beberapa gelas secara tidak sengaja lebih besar dosanya daripada menjatuhkan satu gelas secara sengaja. Pada tahap awal perkembangan moral, anak tidak memperhitungkan unsur motivasi. Baru pada usia yang lebih besar, ia mulai memahami bahwa kualitas suatu perbuatan harus diperhitungkan dalam menilai benar-salah.

2. Ketaatan mutlak menuju inisiatif pribadi
Pada mulanya seorang anak akan menaati apa yang dikatakan orangtuanya. Inilah kesempatan terbaik orangtua untuk mengajarkan apa yang harus diajarkannya karena masa ini akan cepat berlalu. Setelah itu, anak akan lebih terikat dengan perjanjian-perjanjian. Pada tahap ini, anak akan bermain dengan peraturan yang dapat diubah sesuai perjanjian sebelumnya. Karena itu, teriakan ?'curang'' sewaktu anak bermain akan terdengar keras ketika peraturan bersama ini dilanggar. Anak juga sangat peka terhadap ketidakkonsistenan orangtua bila orangtua melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan yang diajarkannya. Bagi mereka, orangtua pun seharusnya terikat dengan peraturan yang mereka tetapkan bagi anak-anaknya. Bila perkembangan moral anak berjalan baik, pada usia remaja akhir anak telah memiliki prinsip moral yang menjadi miliknya pribadi dan yang mengarahkan tingkah lakunya. Anak tidak mudah lagi dipengaruhi lingkungannya. Sebaliknya, anak akan melakukan perbuatan berdasarkan prinsip moral yang dimilikinya.

3. Kepentingan diri menuju kepentingan orang lain
Tahap awal perkembangan moral anak adalah egosentris karena anak masih memusatkan perhatian pada dirinya. Tujuan suatu perbuatan adalah kesenangan pribadi dan kenikmatan. Bila perkembangan moral anak berjalan baik, barulah pada usia yang lebih dewasa, individu dapat melihat kepentingan orang lain dalam melakukan tindakan moralnya. Bukan itu saja, pengorbanan kepentingan diri dapat dilakukan demi kesejahteraan teman-teman sebayanya. Misalnya dengan membagi permen yang dimilikinya, ataupun mengajak teman-temannya untuk berbagi boneka kesayangan.

3.3 Bimbingan Orang Tua Terhadap Anak
1.   Pengertian Bimbingan
Bimbingan dapat diartikan secara umum sebagai suatu bantuan. Namun untuk sampai kepada pengertian yang sebenarnya kita harus ingat bahwa tidak setiap bantuan dapat diartikan bimbingan. Bimbingan adalah terjemahan dari istilah bahasa Inggris yaitu guidance, kata guidance berasal dari kata kerja to guidance artinya menunjukkan, membimbing, menuntun orang ke jalan yang benar. Jadi kata guidance berarti pemberian petunjuk, pemberian bimbingan pada orang lain yang membutuhkan.  pengertian menurut  pendapat dari para pakar, diantaranya:
a. Jear Book of education (I. Djumhur, 1975:25) mengemukakan bahwa bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
b. Stoops (I. Djumhur, 1975:25), mengemukakan bahwa bimbingan adalah suatu proses membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimal dalam mengarahkan manfaat yang sebenar-benarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.

2. Pengertian Orang Tua Dan Tanggung Jawabnya Terhadap Anak
Orang tua merupakan orang yang lebih tua atau orang yang dituakan. Namun umumnya di masyarakat pengertian orang tua itu adalah orang yang telah melahirkan kita yaitu Ibu dan Bapak. Ibu dan bapak selain telah melahirkan kita ke dunia ini, ibu dan bapak juga yang mengasuh dan yang telah membimbing anaknya dengan cara memberikan contoh yang baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari, selain itu orang tua juga telah memperkenalkan anaknya kedalam hal-hal yang terdapat di dunia ini dan menjawab secara jelas tentang sesuatu yang tidak dimengerti oleh anak. Maka pengetahuan yang pertama diterima oleh anak adalah dari orang tuanya. Karena orang tua adalah pusat kehidupan rohani si anak dan sebagai penyebab berkenalnya dengan alam luar, maka setiap reaksi emosi anak dan pemikirannya dikemudian hari terpengaruh oleh sikapnya terhadap orang tuanya di permulaan hidupnya dahulu.

3. Tujuan Orang Tua Membimbing anaknya
Orang tua membimbing anaknya karena kewajaran karena kodratnya dan selain itu karena cinta. Tujuan orang tua membimbing anaknya itu menjadi anak yang shaleh. Anak yang shaleh dan berprestasi dalam belajar dapat mengangkat nama baik orang tuanya yang telah membimbing anaknya dengan penuh kasih sayang.

3.4 Hakikat Pola Asuh Orangtua
1. Pengertian Pola Asuh
Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak dapat berinteraksi. Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian moral sangatlah besar artinya. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam mengasuh anaknya orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. Di samping itu, orang tua juga diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda, karena setiap masing- masing orang tua mempunyai pola pengasuhan tertentu yang beda pula.Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara orang tua dengan anak. Selama proses pengasuhan orang itulah yang memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak.

Menurut Darling (2003;1) mendefinisikan pengasuhan orang tua adalah aktivitas komplek termasuk banyak perilaku spesifik yang dikerjakan secara individu dan bersama- sama untuk mempengaruhi pembentukan moral anak. Berk (2000) dalam socialization with in the family (Anonim, 2003;1) pola asuh orang tua adalah daya upaya orangtua dalam memainkan aturan secara luas di dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anaknya.

Dalam mengasuh anaknya, orang tua cenderung menggunakan pola asuh tertentu. 
Penggunaan pola asuh tertentu ini memberikan sumbangan dalam mewarnai perkembangan terhadap bentuk- bentuk perilaku moral tertentu pada anaknya. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pengasuhan ini berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.

2. Macam- macam Pola Asuh Orang Tua
Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan orang tua. Melalui orang tua, anak beradaptasi dengan lingkungannya dan mengenal dunia sekitarnya serta pola pergaulan hidup yang berlaku di lingkungannya.

Menurut Stewart dan Koch (1983: 178) terdiri dari tiga kecenderungan pola asuh orang tua yaitu: Pola asuh otoriter, Pola asuh demokartis, dan Pola asuh permisif. Ketiga pola asuh orang tua tersebut dapat dijelaskan seperti di bawah ini:

a. Pola Asuh Otoriter

Yaitu pola asuh yang menetapkan standar mutlak yang harus dituruti. Kadangkala disertai dengan ancaman, misalnya kalau tidak mau makan, tidak akan diajak bicara atau bahkan dicubit.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 203), orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri kaku, tegas, suka menghukum, kurang ada kasih sayang serta simpatik, orang tua memaksa anak-anak untuk patuh pada nilai-nilai mereka serta mencoba membentuk lingkah laku sesuai dengan tingkah lakunya serta cenderung mengekang keinginan anak, orang tua tidak mendorong serta memberi kesempatan kepada anak untuk mandiri dan jarang memberi pujian, hak anak dibatasi tetapi dituntut tanggung jawab seperti anak dewasa.

Dalam penelitian Walters (dalam Lindgren 1976: 306) ditemukan bahwa orang yang otoriter cenderung memberi hukuman terutama hukuman fisik. Sementara itu, menurut Sutari Imam Barnadib (1986: 24) dikatakan bahwa orang tua yang otoriter tidak memberikan hak anaknya untuk mengemukakan pendapat serta mengutarakan perasaan-perasaannya. Sedangkan menurut Sri Mulyani Martaniah (1964: 16) orang tua adalah : orang tua amat berkuasa terhadap anak, memegang kekuasaaan tertinggi serta mengharuskan anak patuh pada perintah-perintah orangtua. dengan berbagai cara, segala tingkah laku anak dikontrol dengan ketat.
Orang tua seperti itu akan membuat anak tidak percaya diri, penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, kepribadian lemah dan seringkali menarik diri dari lingkungan sosialnya, bersikap menunggu dan tak dapat merencakan sesuatu.

b. Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis yaitu pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak tetapi tidak ragu untuk mengendalikan mereka pula. Pola asuh seperti ini kasih sayangnya cenderung stabil atau pola asuh bersikap rasional. Orang tua mendasarkan tindakannya pada rasio. Mereka bersikap realistis terhadap kemampuan anak dan tidak berharap berlebihan.
Baumrind & Black (dalam Hanna Wijaya, 1986: 80) dari hasil penelitiannya menemukan bahwa teknik-teknik asuhan orang tua yang demokratis akan menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri maupun mendorong tindakan-tindakan mandiri membuat keputusan sendiri akan berakibat munculnya tingkah laku mandiri yang bertanggung jawab.
Hasilnya anak-anak menjadi mandiri, mudah bergaul, mampu menghadapi stres, berminat terhadap hal-hal baru dan bisa bekerjasama dengan orang lain.

c. Pola Asuh permitif

Tipe ini kerap memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 225) menyatakan bahwa Orang tua yang mempunyai pola asuh permisif cenderung selalu memberikan kebebasan pada anak tanpa memberikan kontrol sama sekali, Anak dituntut atau sedikit sekali dituntut untuk suatu tangung jawab tetapi mempunyai hak yang sama seperti orang dewasa, dan Anak diberi kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri dan orang tua tidak banyak mengatur anaknya. Orang tua tipe ini memberikan kasih sayang berlebihan. Karakter anak menjadi impulsif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri dan kurang matang secara sosial.

Perkembangan moral anak akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan keluarganya. Karenaya, keharmonisan keluarga menjadi sesuatu hal mutlak untuk diwujudkan, misalnya suasana ramah. Ketika keikhlasan, kejujuran dan kerjasama kerap diperlihatkan oleh masing-masing anggota keluarga dalam hidup mereka setiap hari, maka hampir bisa dipastikan hal yang sama juga akan dilakukan anak bersangkutan.
Sebaliknya, anak akan sangat sulit menumbuhkan dan membiasakan berbuat dan bertingkah laku laku baik manakala di dalam lingkungan keluarga (sebagai ruang sosialasi terdekat, baik fisik maupun psikis) selalu diliputi dengan pertikaian, pertengkaran, ketidakjujuran, kekerasan, baik dalam hubungan sesama anggota keluarga.
Demikian pula status sosio—ekonomi. Status sosio-ekonomi, dalam banyak kasus menjadi sangat dominan pengaruhnya. Ini sekaligus menjadi latar mengapa anak-anak tersebut memutuskan terjun ke jalanan. Namun selain faktor tersebut (ekonomi), masih ada penyebab lain yang juga akan sangat berpengaruh mengapa anak memutuskan tindakannya itu, yakni peranan lingkungan rumah, khususnya peranan keluarga terhadap perkembangan nilai-nilai moral anak, dapat disingkat sebagai berikut:
1) Tingkah laku orang di dalam (orangtua, saudara-saudara atau orang lain yang tinggal serumah) berlaku sebagai suatu model kelakuan bagi anak melalui peniruan-peniruan yang dapat diamatinya.
2) Melalui pelarangan-pelarangan terhadap perbuatan-perbuatan tidak baik, anjuran-anjuran untuk dilakukan terus terhadap perbuatan-perbuatan yang baik misalnya melalui pujian dan hukuman.
3) Melalui hukuman-hukuman yang diberikan dengan tepat terhadap perbuatan-perbuatan yang kurang baik atau kurang wajar diperlihatkan, si anak menyadari akan kerugian-kerugian atau penderitaan-penderitaan akibat perbuatan-perbuatannya.

Pendampingan orang tua dalam pendidikan moral anak diwujudkan dalam suatu cara-cara orang tua mendidik anak. Cara orang tua mendidik anak inilah yang disebut sebagai pola asuh. Setiap orang tua berusaha menggunakan cara yang paling baik menurut mereka dalam mendidik anak. Untuk mencari pola yang terbaik maka hendaklah orang tua mempersiapkan diri dengan beragam pengetahuan untuk menemukan pola asuh yang tepat dalam mendidik anak.

1. POLA ASUH OTORITATIVE (OTORITER)
• Cenderung tidak memikirkan apa yang terjadi  di kemudian hari, fokus lebih pada masa kini.
• Untuk kemudahan orang tua dalam  pengasuhan.
• Menilai dan menuntut anak untuk mematuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orang tua.
Efek pola asuh otoriter terhadap perilaku anak :
• anak menjadi tidak percaya diri, kurang spontan  ragu-ragu dan pasif, serta memiliki masalah konsentrasi dalam   belajar.
• Ia menjalankan tugas-tugasnya lebih disebabkan oleh takut hukuman.
• Di sekolah memiliki kecenderungan berperilaku antisosial, agresif, impulsive dan perilaku mal adatif lainnya.
• Anak perempuan cenderung menjadi dependen

2. POLA ASUH PERMISIVE (PEMANJAAN)
• Segala sesuatu terpusat pada kepentingan anak, dan orang tua/pengasuh tidak berani menegur, takut anak menangis dan khawatir anak kecewa.
Efek pola asuh permisif terhadap perilaku anak  :
• Anak memang menjadi tampak responsif dalam belajar, namun tampak kurang matang (manja), impulsive dan   mementingkan diri sendiri, kurang percaya diri (cengeng) dan mudah menyerah dalam menghadapi hambatan atau   kesulitan dalam tugas-tugasnya.
• Tidak jarang perilakunya disekolah menjadi agresif.

3. POLA ASUH INDULGENT (PENELANTARAN)
• Menelantarkan secara psikis.
• Kurang memperhatikan perkembangan psikis anak.
• Anak dibiarkan berkembang sendiri.
• Orang tua lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri karena kesibukan.
Efek pola asuh indulgent terhadap perilaku anak :
• Anak dengan pola asuh ini paling potensial telibat dalam kenakalan remaja seperti penggunaan narkoba,  merokok   diusia dini dan tindak kriminal lainnya.
• Impulsive dan agresif serta kurang mampu berkonsentrasi pada suatu aktivitas atau kegiatan.
• Anak memiliki daya tahan terhadap frustrasi rendah.

4. POLA ASUH AUTORITATIF (DEMOKRATIS)
• Menerima anak sepenuh hati, memiliki wawasan kehidupan masa depan yang dipengaruhi oleh tinakan-tidakan masa   kini.
• Memprioritaskan kepentingan anak, tapi tidak ragu-ragu mengendalikan anak.
• Membimbing anak kearah kemandirian, menghargai anak yang memiliki emosi dan pikirannya sendiri
Efek pola asuh autoritatif terhadap perilaku anak:
• Anak lebih mandiri, tegas terhadap diri sendiri dan memiliki kemampuan introspeksi serta pengendalian diri.
• Mudah bekerjasama dengan orang lain dan kooperatif terhadapo aturan.
• Lebih percaya diri akan kemampannya menyelesaikan tugas-tugas.
• Mantap, merasa aman dan menyukai serta semangat dalam tugas-tugas belajar.
• Memiliki keterampilan sosial yang baik dan trampil menyelesaikan permasalahan.
• Tampak lebih kreatif dan memiliki motivasi berprestasi.
Menyepakati pola asuh yang paling efektif dalam keluarga adalah penting, karena pola asuh pada tahun-tahun awal kehidupan seseorang akan melandasi moral dimasa datang. Perilaku dewasa dan ciri kepribadian  dipengaruhi oleh berbagai peristiwa yang terjadi  selama tahun-tahun awal kehidupan, artinya antara masa anak dan dewasa memiliki hubungan berkesinambungan.


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Pola asuh orangtua memiliki peranan yang cukup besar terhadap perkembangan moral anak, yang dapat diidentifikasi melalui tutur kata, sikap dan perbuatan mereka.
2. Anak yang dididik dengan model pola asuh otoriter menyebabkan anak kurang matang jiwanya, sering kesulitan membedakan perilaku baik buruk, benar salah, suka menyendiri, kurang bisa bergaul dan sulit mengambil keputusan.
3. Anak yang dididik dengan model pola asuh permisif cenderung terlalu bebas dalam bertutur kata, bersikap dan sering tidak mengindahkan aturan yang berlaku, emosi kurang stabil, kurang bertanggungjawab dan sulit diajak bekerjasama.
4. Anak yang diasuh dengan pola demokratis menunjukkan kematangan jiwa yang baik, emosi lebih stabil, mudah diatur, terbuka, supel dalam bergaul dan lebih bertanggungjawab.

Banyak faktor yang membuat pendidikan keluarga moral keluarga menjadi sangat penting. Betapa banyak daerah yang menerapkan Perda yang bersifat keagamaan (Perda Syariah) namun perbuatan a susila juga tidak berkurang. Pornografi Malah semakin menjadi jadi. Berarti, perda yang dikeluarkan oleh penguasa tersebut tidak mampu membenahi moral anak bangsa. Karena perda pada umumnya hanya mengatur hal-hal yang bersifat normatif dan simbolik. Bukan pada nilai-nilainya. Seberapa besar pun sanksi yang diberikan, jika nilai-nilai moral tersebut tidak bersemayam dalam diri setiap anak bangsa, tetap saja tidak akan mengubah keadaan.
Pendidikan moral merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Sehingga orang tua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan moral anak hanyalah tanggung jawab sekolah.
Pendidikan moral merupakan suatu usaha manusia untuk membina  kepribadiannya agar sesuai dengan norma-norma atau aturan di dalam masyaratakat. Setiap orang dewasa di dalam masyarakat dapat menjadi pendidik, sebab pendidik merupkan suatu perbuatan sosial yang mendasar untuk petumbuhan atau perkembangan  anak didik menjadi manusia yang mampu berpikir dewasa dan bijak.

Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan yang tertua, artinya disinilah dimulai suatu proses pendidikan.  Sehingga orang tua berperan sebagai pendidik moral bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan moral yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga.

4.2 Saran
Saran yang dapat penulis berikan berdasarkan hasil penelitian tersebut antara lain :
1. Untuk orangtua
Orangtua harus bisa memilih pola asuh yang baik untuk anak-anaknya yaitu pola asuh demokratis, sehingga perkembangan moral anak menjadi baik pula.
2. Untuk guru/pendidik
Hendaknya guru melakukan bimbingan dan pembinaan yang intensif pada anak yang memiliki

Jika penguasa telah melakukan perannya dengan mengeluarkan peraturan yang bersifat mengikat, maka tugas keluarga lah menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anaknya. Nilai-nilai universal seperti saling menghargai, saling menghormati, berpakaian layaknya manusia terhormat, tutur kata nan menawan merupakan produk olahan orang tua yang dikonsumsi oleh anak-anak mereka dan diaplikasikan dalam pergaulan. Nilai tersebut adalah materi ajar yang langsung dipraktekan dan dicontohkan dengan perbuatan oleh orang tua kemudian ditiru dan dianut secara langsung oleh anak-anak mereka dalam setiap aktivitas sehari-hari.

Jika setiap keluarga telah melakukannya, maka akan tercipta lingkungan yang kondusif bagi perkembangan budi pekerti generasi penerus bangsa ini. Sekolah sebagai salah satu lingkungan yang bersentuhan langsung dengan anak-anak dapat memoles budi pekerti dengan ilmu pengetahuan dan sikap sebagai intelektual. Sehingga tercipta bangsa Indonesia dengan anak-anak yang berbudi pekerti nan menawan.



DAFTAR PUSTAKA

Berry Devanda http://www.berrydevanda.com/2010/07/pendidikan-moral-anak-bangsa_02.html
http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/07/perkembangan-sosial-dan-pribadi-anak-how/
http://kafeilmu.com/2010/11/beberapa-linkungan-pembentuk-moral-anak.html#ixzz1OVQIAosU
Mardiya, 2005. “Buramnya Wajah Keluarga Kita”. Artikel Kedaulatan Rakyat 17 April 2005 
Moleong, 2000, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung.
Pratiwi, W.W. 2002. Gaya Pengasuh Orangtua dalam Keluarga. PSW UNY, Yogyakarta.
Suharsimi Arikunto, 1998, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta
Widayanti, S.Y.M dan Iryani, S.W. 2005. Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Kenakalan Anak B2P3KS, Yogyakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar