Makalah Pengaruh Tontonan TV Terhadap Kepribadian Anak ~ MoooBlogs

Tuesday, January 15, 2013

Makalah Pengaruh Tontonan TV Terhadap Kepribadian Anak

BAB I
PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang

Setiap orang pasti membutuhkan hiburan, salah satu hiburan tersebut adalah dengan menonton televisi. Seorang anak khususnya dapat menghabiskan waktu lebih lama untuk menonton televisi daripada untuk belajar. Hal ini menunjukkan bahwa anak lebih banyak mengetahui apa yang dilihatnya melalui televisi dan besar kemungkinan untuk ditirunya. Baik itu tontonan berupa kartun, sinetron, iklan, film, dan berbagai jenis lainnya.
Televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan berita secara cepat dan memiliki kemampuan mengakses informasi dan mencapai khalayak yang tak terhingga dalam waktu yang bersamaan. Tidak dipungkiri jika televisi juga banyak memberikan manfaat seperti memperoleh informasi terbaru yang terjadi di Indonesia bahkan di dunia. Akan tetapi, acara televisi akhir-akhir ini lebih banyak membawa pengaruh negatif terhadap kepribadian anak. Misalnya, seperti adegan kekerasan dalam sinetron yang sering dilihat anak dapat menyebabkan anak tersebut menirukan dalam kesehariannya.
Oleh karena itu, penyusun memilih judul Pengaruh Tontonan terhadap Perkembangan Kepribadian Anak, karena menarik perhatian penulis untuk dicermati lebih lanjut lagi seiring dengan kemajuan teknologi saat ini agar orang tua lebih hati-hati.

B.   Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.    Mengetahui apa yang dimaksud dengan televisi, anak, kepribadian, dan karakter.
2.    Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian.
3.    Mengetahui peranan televisi terhadap kepribadian anak.
4.    Mengetahui pengaruh tontonan terhadap kepibadian anak.
5.    Memenuhi penilaian akhir mata kuliah Pengembangan Pembelajaran PKn SD.

C.   Metode Penulisan

Adapun metode penulisan dalam membuat makalah ini berasal dari berbagai sumber, yaitu:
1.    Buku Sumber
2.    Internet

BAB II
PERMASALAHAN

Data penelitian Undip-YPMA-UNICEF menemukan bahwa televisi menjadi kegiatan paling favorit bagi anak sepulang sekolah. Penelitian YPMA 2006 menemukan bahwa anak menghabiskan 7 jam sehari untuk mengkonsumsi media, mulai dari televisi, komputer, videogame, dan sebagainya. Angka ini hampir serupa dengan penelitian di Amerika Serikat bahwa anak di negara tersebut menghabiskan waktu 6.5 jam/hari menggunakan media. Data dari berbagai sumber memperlihatkan hasil yang konsisten: durasi menonton televisi yang tinggi pada anak.
Pada tahun 2002 anak-anak di Jakarta menonton TV selama 30-35 jam. Dalam penelitian YPMA tahun 2006, angka itu meningkat menjadi sekitar 35-40 jam seminggu. Anak menonton TV rata-rata selama 3,5 jam per hari pada hari biasa dan 5 jam per hari pada saat libur. Bila dibandingkan dengan lamanya anak bersekolah selama setahun, maka didapatkan angka sekitar 1.600 jam untuk menonton TV dan sekitar 800 jam untuk belajar di sekolah dasar negeri di Jakarta. Penelitian bersama Undip-YPMA-UNICEF tahun 2008 menemukan bahwa mayoritas anak-anak yang diteliti mengaku menghabiskan 3-5 jam pada hari kerja, dan 4-6 jam pada hari libur untuk menonton TV, bahkan beberapa secara ekstrim mengakui bahwa mereka menonton 16 jam pada hari libur. Dari data di atas terlihat bahwa anak menonton di atas batas waktu yang ditoleransi para ahli (maksimal 2 jam per hari). Bahkan, ada anak yang dapat dikatakan cukup ekstrem menghabiskan waktunya di depan TV, yakni sekitar 8 jam (dalam kategori 7-8 jam dan lebih dari 8 jam). Artinya, dalam aktivitas sehari-hari, sepertiga waktu anak tersebut tersita oleh TV (YPMA, 2009).
Data Nielsen Media Januari-Maret 2008 menemukan bahwa anak menonton TV rata-rata 3 jam per hari.Dari total penonton televisi, 21% adalah anak usia 5-14 tahun.Jumlah anak yang menonton pada pagi hari (06.00-10.00) dan siang-malam hari (12.00-21.00) lebih banyak dari kelompok umur lainnya. Pada pagi hari sebagian besar anak menonton sendirian sementara pada siang hingga malam hari mereka akan menonton dengan ibu mereka berbagai tayangan yang tidak ditujukan untuk anak, misalnya : Stardut, Cinta Bunga, Azizah, Supermama, dan Cahaya. Sunarto (2007) menemukan bahwa sinetron di televisi banyak memperlihatkan adegan anak dipukul, ditendang, atau dicaci-maki oleh ibu tiri atau temannya. Membunuh, menembak, melukai musuhnya merupakan aksi yang harus dilakukan oleh jagoan dalam program televisi. Sayangnya, kekerasan fisik dan psikologis juga dapat ditemukan dalam sebagian besar program kartun, program yang sangat identik dengan anak. Temuan tersebut sejalan dengan temuan The National Television Violence Survey bahwa 100% film kartun di AS periode 1937-1999 berisi kekerasan.

Hendriyani dkk [2011] menemukan bahwa dalam satu hari tersedia lebih dari 7 jam acara anak, mulai dari pukul 4.30 pagi sampai 8.30 malam hari. Porsi program import sebanyak 71,4%; mayoritas adalah program kartun/animasi.

 Salah satu program yang paling populer di tahun 2008 adalah Naruto. Bukan hanya perlengkapan dan marchendise ala Naruto yang diincar, namun juga sering tampak anak-anak yang melakukan imitasi terhadap apa yang dilihatnya di layar kaca. Dorongan mengimitasi tayangan ini semakin tinggi seiring dengan tingginya frekuensi penayangan Naruto (satu kali/minggu di Indosiar dan setiap hari di Global TV). Terkait dengan imitasi Naruto tersebut, mengakibatkan jatuhnya korban di Semarang pertengahan Januari 2008. Revino (10 tahun), seorang anak pendiam kelas 4 SD, ditemukan tewas tergantung di kamar tidurnya (Jawa Pos Dotcom 17 Januari 2008).
Kisah korban acara televisi juga terjadi pada tahun 2006 saat acara Smackdown mengakibatkan korban meninggal dan luka-luka. Data yang berhasil dikumpulkan adalah sebagai berikut: Reza Ikhsan Fadillah (9), Bandung (meninggal 16 November 2006). I Made Adi S. Putra (8), Bali, meninggal. Angga Rakasiwi (11), luka-luka. Fayza Raviansyah (4), Bandung, luka dan muntah darah. Ahmad Firdaus (9), Bandung, pingsan. Nabila Amal (6), Bandung, patah tulang. Mar Yunani (9), Yogyakarta, gegar otak. Yudhit Bedha Ganang (10), Jakarta Selatan, luka pada kepala dan kemaluan. Angga Riawan (12), Sukabumi,luka-luka. Fuad Ayadi (9), Madura, luka-luka. M. Arif (11), Jambi, luka-luka. M.Hardianto (11), Kendari, luka-luka. Fikro Haq (7), Balikpapan, luka-luka (dari berbagai sumber). Bukan hanya itu, seorang anak menjadi korban meninggal dunia karena menirukan adegan gantung diri yang dilihatnya di TV. Agung Wibowo (kelas 3 SD di Pontianak) meninggal dunia setelah bermain "mati-matian" bersama dengan kedua adiknya.
Pada tahun 2009, sebuah acara bermuatan magic menjadi populer. Acara yang bernama The Master itu merupakan sebuah kompetisi magic antara beberapa orang. Bentuknya mirip seperti acara kompetisi menyanyi-ada juri dan peserta yang menunjukan bakatnya. Namun, yang ditonjolkan di sini adalah ‘kesaktian' dari masing-masing peserta.
Akhir tahun lalu, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun telah kehilangan nyawanya. Ia ditemukan sang ayah di dalam rumah dengan tubuh tergantung dan terikat. Menurut sang ayah, anak laki-laki bernama Heri Setyawan itu adalah penggemar berat Limbad. Ia gemar sekali menirukan aksi-aksi panggung Limbad. Pernah ia menusukan sejumlah jaru ke tangannya, kemudian mempertonton-kannya kepada semua orang. Begitu menggemari Limbad, anak yang dikenal sebagai pribadi sosial ini akhirnya meregang nyawa. Kisah tragis lain ditemukan di Surabaya. Bermaksud mengikuti aksi Limbad, idolanya, anak laki-laki bernama Asad Hidayat (9th) nekat menelan sebuah cincin logam. Ketika diwawancarai oleh berbagai media, bocah yang masih duduk di kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah ini mengatakan bahwa dirinya sengaja menelan cincin karena sangat menggemari aksi panggung Limbad.

BAB III
PEMBAHASAN


A.   Pengertian Televisi

Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi" merupakan gabungan dari kata tele (τῆλε, "jauh") dari bahasa Yunani dan visio ("penglihatan") dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.”[1]
Televisi sama halnya dengan media massa lainnya yang mudah kita jumpai dan dimiliki oleh manusia dimana-mana, seperti media massa surat kabar, radio, atau komputer. Televisi sebagai sarana penghubung yang dapat memancarkan rekaman dari stasiun pemancar televisi kepada para penonton di rumah, rekaman-rekaman tersebut dapat berupa pendidikan, berita, hiburan, dan lain-lain.
Dewasa ini televisi dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dengan mudah dapat dijangkau melalui siaran dari udara ke udara dan dapat dihubungkan melalui satelit. Apa yang kita saksikan pada layar televisi, semuanya merupakan unsur gambar dan suara. Jadi ada dua unsur yang melengkapinya yaitu unsur gambar dan unsur suara. Rekaman suara dengan gambar yang dilakukan di stasiun televisi berubah menjadi getaran-getaran listrik, getaran-getaran listrik ini diberikan pada pemancar, pemancar mengubah getaran getaran-getaran listrik tersebut menjadi gelombang elektromagnetik, gelombang elektromagnetik ini ditangkap oleh satelit. Melalui satelit inilah gelombang elektromagnetik dipancarkan sehingga masyarakat dapat menyaksikan siaran televisi.

B.   Pengertian Anak

(1)  Menurut keputusan presiden no. 36 tahun 1990 anak adalah setiap manusia yang belum mencapai umur 18 tahun. (2) Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang No 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak menyebutkan bahwa  anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin. (3) Menurut John Lock, anak merupakan pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan.[2] Berdasarkan beberapa pendapat mengenai pengertian dari anak, maka dapat diberikan kesimpulan bahwa anak adalah seseorang yang belum dewasa atau belum mengalami pubertas dimana kepribadian orang itu masih peka terhadap rangsangan dari lingkungan sekitarnya dan peranan bantuan dari orang tua lebih dominan.


C.   Pengertian Kepribadian

(1)  Menurut Alder, kepribadian adalah gaya hidup dari individu atau carayang khas dari individu tersebut dalam memberikan respon terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam hidup. (2) Menurut Gordon W Allport, kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik individu yang menetukan tingkah laku dan pemikiran Individu secara khas. (3) Menurut Yinger, kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi. Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat ditarik kesimpulan pengertian kepribadian adalah keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain.

D.   Tujuan dan Fungsi Televisi

Dari penjelasan mengenai televisi pada pemaparan sebelumnya dapat kita ketahui sesuai dengan undang-undang penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II pasal 4, bahwa penyiaran bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap mental masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dan membangun masyarakat adil dan makmur.[3] Jadi tujuan secara umum adanya televisi di Indonesia sudah diatur dalam undang-undang penyiaran ini. Sedangkan tujuan secara khususnya dimiliki oleh stasiun televisi yang bersangkutan, contohnya TVRI “Menjalin Persatuan dan Kesatuan”.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis dapat mengklasifikasikan tujuan adanya televisi secara umum adalah:
1.    Menumbuhkan dan mengembangkan mental masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
2.    Memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dan
3.    Mengembangkan masyarakat adil dan makmur

Pada dasarnya televisi sebagai alat atau media massa elektronik yang dipergunakan oleh pemilik atau pemanfaat untuk memperoleh sejumlah informasi, hiburan, pendidikan dan sebagainya. Sesuai dengan Undang-Undang penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II pasal 5 berbunyi “Penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi dan penerangan, pendidikan dan hiburan, yang memperkuat ideology, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.” Banyak acara yang disajikan oleh stasiun televisi di antaranya, mengenai sajian kebudayaan bangsa Indonesia, sehingga hal ini dapat menarik minat penontonnya untuk lebih mencintai kebudayaan bangsa sendiri, sebagai salah satu warisan bangsa yang perlu dilestarikan.

Dari uraian mengenai fungsi televisi secara umum menurut Undang-Undang penyiaran, dapat penulis deskripsikan bahwa fungsi televisi sangat baik karena memiliki fungsi sebagai berikut:
1.    Media informasi dan penerangan
2.    Media pendidikan dan hiburan
3.    Media untuk memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya
4.    Media pertahanan dan keamanan


E.   Pengaruh Acara Televisi terhadap Kepribadian Anak

Fungsi utama televisi adalah untuk menghibur dan memberikan  informasi, tetapi tidak berarti fungsi mendidik dan membujuk dapat diabaikan. Fungsi non hiburan dan non informasi harus tetap ada karena sama pentingnya bagi keperluan kedua pihak, komunikator dan komunikan.
Pengaruh positif televisi adalah televisi dapat menyediakan program pendidikan  untuk anak usia sekolah, menambah kreativitas dan pengetahuan anak namun disisi lain televisi juga memiliki pengaruh negatif terhadap aktivitas fisik seperti perilaku merokok, perilaku agresif, tingkah laku, pengguna alkohol dan obat terlarang, hubungan seksual bebas, pola makan yang salah, obesitas, serta penurunan prestasi akademik  terutama apabila ada televisi di kamar anak. Menonton televisi dapat menurunkan prestasi akademik anak usia sekolah. Hal ini disebabkan karena:
(1)  Mengurangi semangat belajar karena bahasa televisi yang sederhana dan  memikat sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar.
(2)  Menonton televisi menyebabkan berkurangnya waktu untuk membaca dan mengikuti kegiatan di sekolah.
(3)  Lama menonton televisi juga sangat menentukan, dimana biasanya anak  menghabiskan waktu 3 sampai 5 jam sehari untuk menonton televisi.
(4)  Beberapa penelitian menyatakan ada hubungan antara rendahnya minat  baca dan kemampuan membaca terhadap pertambahan waktu menonton televisi, terutama pada anak laki-laki. Namun hal ini tidak bermakna pada  anak yang mempunyai IQ yang lebih tinggi dari normal. Namun pada anak  penggemar berat  televisi (menonton televisi lebih dari 5 jam sehari).
(5)  Meskipun memiliki IQ normal ataupun lebih tinggi tetap saja dijumpai  kemampuan membaca yang lebih jelek. 17 Penelitian lain pada anak sekolah  menengah juga dijumpai prestasi akademik jelek yang berhubungan dengan bertambahnya waktu menonton televisi.
(6)  Menonton televisi juga mempengaruhi kebiasaan belajar anak dan tingkah laku di sekolah. Film kartun seperti sesame street menyebabkan perhatian anak di kelas berkurang terhadap pelajaran terutama perhatian pada  gurunya.

Pada penelitian lain menonton televisi pada masa kanak-kanak (usia 3  sampai 5 tahun) juga berhubungan dengan masalah memusatkan  perhatian pada masa remaja (12 sampai 15 tahun) disebabkan konsentrasi  berkurang, tidak perhatian dengan ucapan guru kelas, pikiran mudah terpecah saat ingin berkonsentrasi.[4]  Menonton televisi dapat mengganggu pola tidur yang akhirnya dapat menurunkan kemampuan memori verbal anak. Usia anak saat mulai menonton televisi. Berkurangnya minat baca anak terutama pada anak sekolah dasar sangat penting diperhatikan karena periode ini adalah tahap awal mereka belajar membaca. Sedangkan untuk  tahun berikutnya dimana seharusnya anak lebih sering belajar membaca  justru mereka habiskan untuk menonton televisi.
Permasalahan lain yang timbul adalah ketika anak menonton kartun bisu seperti Shaun the Sheep, Bernard, Vicky & Johnny, Oscar, dan lain sebagainya secara berulang dan terus-menerus juga dapat mempengaruhi kepribadian anak. Kepribadian merupakan susunan sistem-sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud meliputi kebiasaan, sikap, tata nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif  yang bersifat psikologis. Karakter/tokoh dalam film kartun bisu memiliki sifat atau kebiasaan serta perilaku tertentu, jika ditonton berulang maka sifat atau perilaku tersebut yang akan ditiru oleh anak. Maka dampak paling nyata (observable) film kartun bisu terhadap kepribadian anak adalah perilaku enggan berbicara pada anak.
Perlu diketahui oleh para orang tua adalah masa perkembangan kognisi anak. Usia 1-5 tahun merupakan stadium pra-operasional perkembangan kognisi anak atau masa emas dalam membentuk kecerdasan anak. Stadium ini merupakan saat pertama anak menguasai bahasa yang sistematis, mengenal arti simbolis dan perilaku imitasi awal yang membentuk mental anak. Sehingga pada usia ini, anak memerlukan pengembangan kemampuan berbahasa dan penggunaan kata-kata yang benar serta mengekspresikan kalimat-kalimat pendek namun efektif. Selain itu anak pada usia ini mulai mengembangkan sikap differred-imitation sehingga mudah sekali meniru perilaku/karakter yang dilihatnya. Social learning theory menjelaskan bahwa perilaku individu merupakan hasil dari proses belajar dariperilaku individu lain, maka perilaku seorang individu (anak) merupakan imitasi dari perilaku individu lain (karakter/tokoh kartun) yang dilihatnya.
Bayangkan jika yang anak pada usia 1-5 tahun menonton film kartun bisu, maka anak tidak dapat mengembangakan kemampuan berbahasa (verbal) serta mereka akan dengan mudah mengimitasi tokoh/karakter kartun bisu tersebut. Sebagai contoh: karakter pada film kartun Oscar’s Oasis dan Bernard Bear yang memiliki karakter yang agresif ternyata dapat mendorong perilaku agresif anak (observasi). Agresivitas merupakan suatu niat atau aktivitas yang dapat menyakiti diri sendiri atau orang lain (Fishbein, 1984. The Psychologyof Infacy and Childhood, New York), berupa aktivitas fisik maupun verbal.[5] Sikap agresif anak tercermin dari perilaku yang bertentangan dengan orang lain atau melawan orangtua, perilaku mendorong atau memukul, menuntut/mencoba memaksa untuk memiliki benda-benda yang bukan miliknya. Perilaku inilah yang menjadi indikator bahwa proses pertumbuhan pra-operasional kognitif sedang bermasalah.

Menurut Effendy (1986: 122), “Pengaruh televisi tidak lepas dari pengaruh terhadap aspek-aspek kehidupan pada umumnya. Bahwa televisi menimbulkan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia, sudah banyak mengetahui dan merasakannya, baik pengaruh positif ataupun negatifnya. Acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan persepsi, dan perasaan para penonton. Sehingga mengakibatkan penonton terharu, terpesona, atau latah. Sebab salah satu pengaruh psikologis televisi seakan-akan menghipnotis penonton sehingga mereka seolah-olah hanyut dalam keterlibatan kisah atau peristiwa yang disajikan televisi. Setiap orang akan senang jika menonton tayangan yang disukainya di televisi”.

Acara di televisi juga dapat mempengaruhi kecerdasan moral seorang anak. Misalkan ketika melihat suatu adegan dalam sebuah sinetron. Anak melihat pemain sinetron berperilaku kasar terhadap lawan bermainnya seperti memukul atau mencaci maki dengan orang yang lebih tua. Ataupun sebaliknya, pemain sinetron berperilaku baik seperti saling membantu terhadap sesama manusia, peduli terhadap orang yang tidak mampu, maupun bertutur kata yang baik terhadap orang yang lebih tua.  Di sinilah kontrol diri seorang anak akan teruji, apakah ia akan membuat keputusan untuk mengikuti perilaku yang dilakukan pemain tersebut atau tidak.


F.    Solusi agar Anak Tidak Terpengaruh Hal yang Negatif dari Acara di Televisi

Pendidikan keluarga sebagai dasar pembentukan kepribadian anak. Peranan ayah dan ibu sangat menentukan bagi faktor perkembangan kepribadian anak. Mereka yang bertanggung jawab seluruh keluarga. Merekalah yang menentukan kondisi perkembangan anak, kemana keluarga itu akan dibawa, warna apa yang diberikan kepada keluarga. Anak-anak sebelum dapat bertanggung jawab sendiri, masih sangat menggantungkan orang tuanya.[6]

Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting, karakter dan kepribadian anak dipengaruhi oleh lingkungannya, terutama dari orang tuanya. Setiap orang tua mempunyai tanggung jawab untuk selalu mengawasi anaknya dan memperhatikan perkembangannnya. Oleh sebab itu hal-hal sekecil apapun harus bisa diantisipasi oleh setiap orang tua mengenai dampak positif dan negatif yang akan ditimbulkan. Sebenarnya, banyak dampak yang diakibatkan oleh tontonan televisi. Beberapa hal yang dilakukan orang tua adalah:

1.     Memilih acara yang sesuai dengan usia anak.

Jangan biarkan anak-anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya, walaupun ada acara yang memang untuk anak-anak.

2.     Mendampingi anak menonton TV.

Tujuannya adalah agar acara televisi yang mereka tonton selalu terkontrol dan orang tua bisa memperhatikan acara yang layak atau yang tidak untuk ditonton. Sehingga anak selalu dalam pengawasan orang tua.

3.     Manfaatkan waktu yang sedikit tersebut sekaligus sebagai sarana belajar anak.

Duduklah bersama anak dan diskusikan isi tayangan pilihannya. Siapkan kegiatan alternatif pengganti agar anak tidak lagi merengek dan kembali menonton televisi.

4.     Mengajak anak keluar rumah untuk menikmati alam dan lingkungan, bersosialisasi serta positif dengan orang lain.

Sekali-kali refreshing untuk menghilangkan kejenuhan akibat seringnya nonton televisi dengan acara yang bisa meracuni pikiran anak. Mengajak  anak mengenal lingkungan sekitar. Dengan itu anak bisa belajar dari lingkungan dan bersosialisasi dengan orang lain.

5.     Memperbanyak membaca buku dan meletakkan buku ditempat yang mudah dijangkau anak-anak.

Kegiatan ini sangat positif bagi anak-anak, karena dengan membaca buku anak-anak bisa mendapatkan pengetahuan yang positif yang sangat bermanfaat untuk perkembangannya. Anak menjadi cerdas dengan membaca buku daripada menonton acara televisi yang tidak layak ditonton.  Hal ini merupakan alternatif lain yang membuat anak lupa dengan seringnya menonton televisi.

6.     Memperbanyak mendengarkan radio, memutar kaset-kaset atau mendengarkan musik sebagai pengganti menonton televisi.

Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena dengan mendengarkan televisi, anak akan terlatih kemampuan mendengar. Jika dibandingkan dengan menonton televisi hanya merangsang anak untuk mengikuti alur cerita tanpa menganalisis lebih lanjut yang dilihat dan didengar.


[1] “Televisi,” http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi (akses 26 Mei 2012).
[2] Derry Mayendra,”Pengaruh Tontonan terhadap Pembentukan Kepribadian Anak,” http://derrymayendra.blogspot.com/2011/07/pengaruh-tontonan-tehadap-pembentukan.html (akses tanggal 26 Mei 2012).
[3] Rani Yuliani,” Pengaruh Televisi terhadap Perkembangan Anak,” http://raniyuliandani.wordpress.com/2009/05/26/pengaruh-televisi-terhadap-perkembangan-anak/ (akses 26 Mei 2012)
[4] Rani Yuliani, Ibid.
[5] Satria,” Kartun Bisu Mempengaruhi Kemampuan Verbal anak,” http://ml.scribd.com/doc/69710259/Kartun-Bisu-Mempengaruhi-Kemampuan-Verbal-Anak-Usia-1 (akses 27 Mei 2012)
[6] Agus Sujanto, et.al., Psikologi Kepribadian (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1980), h. 56.

BAB IV
PENUTUP


A.   Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa televisi sangat disukai oleh setiap orang, khususnya anak-anak. Acara di televisi membawa pengaruh tersendiri bagi anak-anak. Televisi akan memberikan dampak negatif terhadap kepribadian anak lebih besar daripada dampak positifnya seperti menurunkan semangat anak untuk belajar, membuat ketagihan, menurunkan minat baca, dan lain-lain. Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orang tuanya. Peranan orang tua dalam mengatasi dampak tersebut sangatlah penting yaitu dalam mengawasi dan memeperhatikan perkembangannya.


B.   Saran

Orang tua dapat membiming anaknya dalam menonton acara televisi dengan cara-cara sebagai berikut:
1.    Pilihlah program acara televisi yang memang benar – benar bermanfaat bagi seluruh keluarga.
2.    Gunakan televisi yang ada hanya sebagai media untuk mendapatkan informasi penting seperti cerita.
3.    Tentukan dan bedakan waktu menonton televisi bagi anak – anak yang belum dan sudah dewasa.
4.    Batasi waktu menonton televisi untuk anak – anak.
5.    Alihkan perhatian dan kegemaran anak – anak dalam keluarga dari kecanduan menyaksikan seluruh acara televisi yang di sajikan di setiap harinya kepada bentuk – bentuk kegiatan dan kesenangan baru yang positif seperti membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan Hadits, membaca koran, membaca buku dan lain sebagainya.

Disamping titu orang tua harus bisa menjadi kontrol dagi pihak penyiar televisi untuk memberikan saran ataupun kritikan tentang bahaya dampak negatif bagi pemirsanya. Peran pemerintah dan industri penyiaran televisi agar mendesain ulang program siaran yang sesuai dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia dan mempertimbangkan dampak dari acara tersebut sehingga tidak berpengaruh buruk pada anak-anak.  Selain itu, adanya pengaturan acara televisi agar fungsi dari televisi sebagai sarana informatif, edukatif, rekreatif sampai pada penontonnya.



1 comments:

Post a Comment